Refreshing Pikiran Dengan Bekal Uang 50 Ribu! Menjadi Pengalaman Yang Tak Terlupakan

MEDIA BERITA UNIK – Assalamu’alaikum Wrb, Salam sejahtera buat pembaca sekalian yang budiman. Nama gue Muhammad Syahrul. Gue lahir dan besar di kota Jakarta. Sekarang umur gue 25 tahun. Gue bekerja di sebuah perusahaan suwasta di jakarta. Sebagai seorang karyawan kelas “sendal jepit” hari – hari gue dalam sepekan, selalu di sibukan dengan pekerjaan yang berat, bahkan pada hari – hari liburpun terkadang gue tetap disuruh masuk kerja. Kalau seandainya gue coba menolak, maka gue bisa di ancam akan di berhetikan oleh atasan gue, sadiskan banget kan! Tentunya hal tersebut membuat gue jadi “setres”. Sehingga pada saat gue mendapatkan jatah libur, gue sering menggunakannya dengan berbagai macam cara, untuk melepas rasa penat. Salah satu cara yang gue sering lakukan dalam mingisi libura kerja adalah berkeliling atau jalan – jalan kemanapun yang gue suka, yang penting heppy bro…!

Suatu hari ketika gue mendapatkan jatah libur. Pada saat itu gue bingung hendak melakukan apa, dikarenakan kebetulan saat itu masih “tanggal tua” dan pastinya gue lagi “boke”. Dan bahkan sisa uang yang ada, hanya tinggal 50 ribu saja. Namun akhirnya ditengah gue sedang berfikir hendak melakukan apa. Sambil gue memainkan Handphone, tiba – tiba seorang teman gue yang bernama Nasir datang ke tempat kos – kosan gue. Lalu dia mengajak gue untuk jalan – jalan keliling kota dengan naik motornya yang sudah rada – rada tua. Tetapi gue berkata kepada Nasir “Uang gue tinggal 50 ribu alias gocap nih gimana!” Lalu si Nasir gue tanya lagi “Loe punya duit nggak?” Terus sambil nyengir – nyengir dia jawab “nggak!”. Namun kemudian dia berkata “Tenang ajah yang penting Tangki bensin motor gue penuh bro!”. Lalu kemudian gue berkata dalam hati “Ya sudah deh! dari pada gue melongo di rumah, yang ada gue malah tambah setres lagi, lebih baik gue keliling aja deh sama si Nasir, walau cuma pegang duit 50 ribu”. Lalu gue bilang “Oke deh kita berangkat”.

Pagi itu cuaca cukup kondusif, untuk melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Gue dan Nasir pun langsung bergegas melakukan perjalanan. Saat belum begitu jauh, tiba – tiba motor tua si Nasir jalannya tidak stabil, ternyata begitu kami cek, Ban motornya gembos alias bocor. Untungnya tidak jauh dari tempat kami berhenti, ada sebuah bengkel tambal Ban, lalu Ban motor tua si Nasir segera ditambal, dengan memakan biaya 8.000 rupiah. Tentunya sisa uang gue kini tinggal 42.000 rupiah, yang membuat hati gue ada perasaan khawatir dalam dalam perjalanan ini. Lalu setalah kami selesai menambal Ban, kami melanjutkan perjalan. Di tengah perjalanan, kami melihat ada satu tempat yang kami nilai asyik dan keren, tempat tersebut adalah Taman Mini Indonesia Indah. Lalu kami berheti dan singgah disana. Namun dikarnakan uang gue nggak cukup buat bayar tiket masuk ke Taman Mini, akhihnya kita cuma nongkrong depannya saja. Tetapi lumayan juga sih! di situ kami juga bisa sedikit cuci mata, karna rupanya banyak juga “cabe – cabean” nongkrong di disana. Tidak laman kemudian, mungkin sekitar 30 menit dampai satu jam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karna suasananya agak sedikit membosankan.

Saat itu sudah tepat pukul 12 siang, matahari cukup terik dan hampir membakar kulit. Kemudian kami memutuskan untuk singgah di sebuah Mesjid di pinggir jalan, lalu kami melakukan Shalat berjamaah disana. Maklum walau kami sedikit “nakal” tapi kami tetap beriman, hehehe. Setelah selesai Shalat, tiba – tiba dari perut kami mengeluarkan suara – suara aneh,  hahaha….rupanya kami sudah lapar. Lalu gue tanya sama si Nasir:
Gue   : “Sir loe lapar nggak?”
Sambil cengangas cengenges dia berkata,
Nasir : “Iya nih! soalnya gue tadi pagi cuma sarapan pisang goreng doang, dua biji.”
Gue   : “Oke deh, kita cari makanan yuk!”
Nasir : “Ayo siapa takut!”

Kemudian kami mencari tukang makanan terdekat disana. Dan rupanya di depanjang jalanan  dari Mesjid itu, terdapat sederetan penjual makanan. Disana terdapat berbagai macam makan yang dijual. Namun karna berhubung “badget” gue cuman sedikit, akhirnya kami memutuskan untuk membeli ketoprak saja! Selain harganya murah, tapi juga cukup mengenyangkan tentunya. Kami makan dengan sangat lahab, seperti orang yang sudah dua hari nggak makan.

Di dekat tempat kami makan ada sebuah lubang yang lumayan besar. di dalam lubang tersebut tedapat genangan air, sisa hujan semalam. Ketika kami sedang asyik – asyiknya makan, tiba – tiba ada sebuah mobil melitas dengan sangat kencang. Wues…Lalu genangan air tersebut “muncrat” hingga mengenai pakaian dan wajah kami. Dan bahkan sampai mengenai ketoprak yang sedang kami makan. Sue loe…! kata si Nasir, sambil mengeluarkan wajah garang kepada si pengendara mobil tersebut. Namun mobil tersebut tidak berheti.
Gue                    : “Waduh…mana  ketoprak gue masih banyak lagi, Sue…banget tuh orang”
Nasir                  : “Terus gimana nih, mana gue belum kenyang lagi!”
Lalu Abang Tukang Ketoprak berkata : “Ya sudah nggak apa – apa Mas, nih saya buatin lagi, yang ini biar gratis aja deh!”
Gue                   : “Waduh nggak usah bang, nanti abang jadi rugi lagi” sambil pura – pura lugu!
Tukang Ketoprak : “Nggak apa – apa, namanya juga musibah Mas.”

Kemudian sambil mengusap – usap pakaian dan wajah gue yang terkana cepretan air kotor. Tiba – tiba gue melihat ada dua orang perempuan cantik mengendarai sepeda motor keren Yamaha Fino FI. Yang ternyata salah satu cewe tersebut adalah si Cinta, cewe yang selama ini gue sama Nasir rebutin. Dalam hati gue berkata “Kamu….terlihat paling cantik dengan skutermatik yang menawan, dengan gaya klasik jaman sekarang. Hehehe….kayak lagunya SKJ 94 aja!” Lalu di dalam kalbu gue juga berkata  “Kapan…yah gue punya motor keren kayak gitu, terus gue ajak si Cinta yang cantik jalan – jalan”. Rupanya si Cinta dan Dewi sedang membeli ayam bakar, yang berada tepat di sebelah tempat kami makan. Lau kemudian dia melihat dan senyum ke arah gue. Lalu gue juga membalas senyumnya. Tetapi gue pada saat itu, sengaja nggak mendekati si Cinta dan Dewi. Karena pada saat itu gue tengsin alias malu abis bro…! Lantaran baju sama muka gue dekil banget, karna terkena cepretan air tadi. lalu gue berkata kepada Nasir:

Sumber Gambar: lucu.co

Gue   : “Sir, ayo kita cabut.”
Nasir : “Nanti dulu, makan gue aja belum habis, emang kenapa sih loe buru – buru amat?”
Gue   : “Loe emang nggak liat di sebelah!”
Setelah si Nasir melihat ke arah tukang ayam bakar sebelah, lalu ia pun sontak kaget.
Nasir : “Yah… loe kok nggak bilang – bilang kalau ada si Cinta disini, gue kan tenggsin (malu). Ya udah…ayo kita cabut.”
Gue   : “Terus gimana nih, baju kita udah kotor banget! Kita mau lanjut apa pulang ajah?”
Nasir : “Yaelah masa segini doang kita jalan – jalannya, Udah nanggung bos kita lanjutin ajah yah!”  
Dan kemudian akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalan.
  
Kami cukup lama melakukan perjalanan, mungkin sekitar 2,1/2 sampai 3 jam perjalanan, dari tempat kami makan tadi. Lalu di tengah perjalanan, gue berkata kepada Nasir:
Gue   : “Hei Sir, ngomong – ngomong loe tau nggak kita sekarang ada dimana?”
Lagi – lagi dengan senyuman yang agak ngeselin dia jawab,
Nasir : “Nggak tau!”
Gue  : “Lah! terus gimana nih?”
Nasir : “Udah tenang aja loe! Kalu kita nggak tau jalan pulang tinggal nanya ajah, gitu ajah kok repot.”
Nasir : “Eh….ngomong – ngomong Uang loe masih ada berapa?”
Gue   : “Masih ada 26 ribu, emang kenapa?”
Nasir : “Bensin motor gue tinggal sedikit nih, tapi kalau 26 ribu cukup kok buat beli bensin sampai kita pulang nanti.”

Sumber foto: shafiranoor.blogspot.com

Taksadar setelah cukup lama berjalan, kami baru sadar kalau kami telah sampai di daerah puncak bogor. Pada saat itu gue sangat senang tentunya, ketika meliahat ke arah kanan dan kiri. Gue menikmati pemandangan disana yang begitu indah, begitupun udaranya yang sejuk, sampai terasa ke dalam paru – paru. Hal tersebut cukup membuat rasa penat di hati hilang seketika. Sambil berteriak – teriak, gue luapkan segala emosi dari dalam jiwa, sambil berdoa semoga gue mendapat pekerjaan yang lebih baik dari yang sekarang ini. Kami berada di sana hingga malam hari. Dan kemudian dengan berat hati kami memutuskan utuk segera pulang. Di tengah perjalanan pulang, ada sebuah kejadian yang mengerikan. Ditengah jalan, tepat di sebelah kami ada sebuah mobil Avanza tersenggol oleh sebuahTruk kontainer. Sehingga mobil itu oleng dan kehilangan kendali, yang hampir saja menabrak kami. Namun syukur kami selamat. Tetapi mobil Avanza tersebut menabrak pembatas jalan dan sampai terguling, sontak suasanapun jadi mencekam. Kemudian terdengar Suara teriakan minta tolong dari dalam mobil yang terguling itu. Kami bergegas menolong orang tersebut. Kami melihat korban tersebut adalah seorang lelaki paruh baya. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Lalu kami mengeluarkan laki – kaki tersebut dan kemudia segera menyetop Taxi dan membawanya kerumah sakit terdekat.

 Sumber Gambar: tempo.co

Tak terasa malam sudah semakin larut, Polisi dan keluarga korbanpun sudah mulai berdatangan. Namun pada saat itu kami tak di izinkan pulang oleh Polisi, karena ingin di mintai keterangan mengenai kecelakaan tersebut. Kami di Introgasi oleh Polisi cukum lama, hingga sampai Matahari hendak memunculkan dirinya. Pukul 07.00 pagi tiba – tiba Handphone gue berdering. Ternyata yang menelpon adalah atasan gue, dia berkata: “Hai Sahrul, gimanasih kok kamu sudah jam segini belum datang?”. Lalu gue menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun dengan kata – kata kasar ia malah memarahi gue, dan bahkan dia malah mengancam, benar – benar akan memecat gue. Gue pada saat itu sangat stres, gue hanya bisa pasrah saja, tetapi gue berpikir, gue berbuat sesuatu hal yang benar.

Ketika hari sudah semakin pagi, perut kami tersa sudah lapar, karna sudah bergadang semalaman. Sisa uang gue hanya tinggal 26 ribu saja, itu pun mau kami pergunakan untuk membeli bensin untuk pulang. Tetapi Alhamdulillah pada saat itu keluarga korban bersikap sangat baik kepada kami. Selain mereka memberikan makanan, mereka juga berkali – kali mengucapkan terimakasih kepada kami. Rupanya orang yang kami tolong itu adalah seorang pengusaha yang sangat kaya raya, yang kalau menurut peribahasa kampung “Hartanya nggak akan habis walau sampai tujuh turunan” karna memang saking kayanya. Selain itu mereka juga membeikan sebuah Cek kepada kami sebagai tanda terima kasih. Awalnya kami sempat menolak Cek tersebut, karna kami tulus menolong orang tersebut, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tetapi mereka memaksa kami menerimanya, karena mereka merasa sangat berhutang budi kepada kami.

Dengan sikap malu – malu kami pun mengambil Cek tersebut. Ternyata setelah kami melihat, isi cek tersebut bernilai satu milyar rupiah. Kami sangat senang waktu itu, bahkan saking senangnya si Nasir sampai melompat – lompat kegirangan, sambil berteriak “Kita kaya – kita kaya” sampai berulang – ulang,”maklum orang kampung”. Kami pun berterimakasih dan kemudian langsung berpamitan pulang. Kemudian sesampainya di rumah, gue langsung mengundurkan diri dari pekerjaan yang selama ini gue anggap sebagai siksaan. Gue dan sahabat gue Nasir, memutuskan untuk berwirausaha. Dan hingga kini hidup kami bekecukupan. Kini pengalaman perjalanan kami yang hanya berbekal Uang 50 ribu, menjadi menjadi sebuah kisah perjalanan yang tak terlupakan sampai kapanpun. Sekian. Wassalamu’alaikum, wrb.

Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba: Dengan MIO FINO Kemanapun Asyik.
Web    : www.kemanapunasyik.com
Video  : http://www.youtube.com/watch?v=XdI1CHTM4Mw

http://kemanapunasyik.com/ 

Leave a Reply